Bitchiness is not a Crime

Just another woman who try to look wise

Obsessing over marriage

A friend of mine keeps asking, “Why do people think that asking about your marital plan is part of courtesy?” Well, I have no idea!!

In fact I also wonder, why do people are so freakin’ obsessed over marriage? For me, the older I get, the more I find that marriage concept is absolutely absurd!! Of course I do find that ‘companionship’ is wonderful, but what marriage got to do with it? And why do people are so f*cking pushy of getting us single girls to be married… (Observed how people react to men of my age – it is acceptable to be single!)

So we’ve come up with several theories of our own…

1. Misery needs a company

Those people after they got married for sometimes, they’ve realised that their dream marriage is not EXACTLY like what they’ve planned. It is full of hardship and hard work… Cinderella wedding only lasted for one night and after that they end up where they are before… in the kitchen scrubbing floors and full of ashes on the face tries to keep the family well provided and stay together. And they don’t want to feel like that by their own, they want others to be in their shoes to ‘understand’ them better.

2. Stray dog

Some women see us (single mature ladies) are like stray dogs… so harsh? Let me tell you the analogy… Just like a stray dog, that roams the streets freely, they also have no ‘master’ who can be responsible and pull their lashes to control their action. A stray dog has no sense of belonging, it can enter your backyard and dig up your garden and maybe poop on your porch. Now, apply that perception to your home… a single girl can be a threat! She can just walk in to your home and messed up your family, steal your husband, flirt and still looking great (great body shape since she has never bear a child).

3. Social obligation

Now this actually rather pathetic… So we are living in a society, rite? And there is an unwritten social contract between the members. That we need to take care of each other and keep the society ‘in order’. Imagine if a single person decided not to get married and he/she is very old, senile, fragile, etc. who will take care of that person? He/she got no family, no one to wipe their ass, to put the spoon in their mouth, to make sure that if they die it wont be messy… the responsibility goes to the hand of society! Now, they don’t want to do that, but the social contract put that obligation in their hand. So to prevent that, they pushes the singles to get married and gives the idea that when you’re old, there will be someone to take care of you… hah! (my friend disagree on this, she said that most single women she knows, are very independent and very active – but how will the society be assure of it?)

Okay, it may sound too cynical. But I can’t think of other things that can make people so noisy and pushy about marriage thing… And from today onward, I believe asking about marriage plan when the person is single, is very rude and impolite.

Advertisements

August 18, 2009 - Posted by | B*tching, Life in General, Marriage, Relationship, Women

29 Comments »

  1. Dear Hapitri,
    ref to your statement “For me, the older I get, the more I find that marriage concept is absolutely absurd!” ….
    Please, your statement is quite unclear for me. Whose or which marriage concept did you refer to that has brought you to such weird conclusion “absolutely absurd”? was it yours? theirs? mine? Islamic’s? Atheist? ………
    Some people may see marriage as a promisisng way to survive, to regenerate, to get company, for pleasure etc…or whatever (you could easily see those in several Indonesian’s telenovela). That is one of People’s right.
    If your marriage concept is now getting absurd, I would greatly feel honored to invite you to refer to my marriage concept that I’ve ever told you in previous posting. Why ? because realities I found were far better and much fascinating than what we axpected…
    Ga’ percaya? coba ajah lagee….

    Comment by Irawan Danuningrat | August 20, 2009 | Reply

    • to produce off springs you don’t need to get married… u don’t believe me? have intercourse with any fertile female and you’ll see 😉
      to get pleasure? hehehe… since when you need a ‘license’ just to get orgasm?
      a companionship? honestly, it is about ‘comitting’ to each other, and marriage is just a piece of paper… it got nothing to do with companionship… well, it fined you if you break the deal but doesnt make one as your companion 😉

      absurd because I don’t understand why people need to push others into this ‘forced togetherness’ called MARRIAGE.

      Comment by hapitri | August 21, 2009 | Reply

  2. I agree with U that no one need to get married to regenerate (ayam aja nggak kawin bisa punya anak koq).
    I agree with U that marriage is not the way to get pleasure
    (kalo kepingin sate kan lebih praktis en enak jajan di warungnya Djono Kumis drpd repot2 piara kambing) ya nggak mbak?
    Untuk memperoleh nafkah demi kelangsungan hidup? ga kawin juga orang mampu hidup koq!

    I understand that marriage concept would be varied for one to another and some people might see it as a legal way to reach above mentioned targets. But, never my marriage concept…..! I absolutely have and keep myown marriage concept.

    So, if your concept of marriage is just like that, or similar to that, …. he he…then I 100% agree with U that MC is totally absurd!!.

    Comment by Irawan Danuningrat | August 21, 2009 | Reply

    • ah… legal or illegal is a matter of perspective….
      who can really judge ‘how legal’ one marriage can be?
      just signing in some piece of paper? so? what’s the different?
      xixixixi….

      Comment by hapitri | August 21, 2009 | Reply

  3. Saya merasa beruntung pernah berdomisili cukup lama di beberapa negara a.l. di Swedia, Brazil dan Thailand yg masyarakatnya relatif permisif atau bahkan liberal sehingga juga cenderung memandang “konsep perkawinan” sebagai “absurd”. Maka dari itu tak heran jika sejak tahun 70-an mereka tinggalkan kaidah dan nilai2 perkawinan sbgmn diintrodusir agama dan lebih mengedepankan nilai2 logika yg dianggap lebih “manusiawi”.

    Guna mengatasi kebutuhan “biologis” mereka legalkan budaya hidup bersama di luar nikah, hubungan sejenis, pengguguran kandungan dan utk kebutuhan “psikologis” dipermudah pengurusan adopsi anak asing. Sejak saat itu, terlihat betapa bangga mereka dan sekaligus merasa “lebih mulia” abapila punya anak berkulit hitam, sawo matang atau berkulit kuning yg diadopsi dari negara-negara berkembang maupun terbelakang! (bagaimana dampak psikologis si anak yg diadopsi selanjutnya? tampaknya ga perlu terlalu dipikirkan)

    Menurut hemat saya, semua itu terjadi antara lain karena adanya pandangan yg kurang pas thdp esensi perkawinan sebagaimana di usung oleh ajaran agama, dan cenderung lebih menyorotinya dari sisi logika berdasarkan kecerdasan intelektual tanpa diikuti kecerdasan emosional dan spiritual yg sesungguhnya juga sangat mendasar.

    Tapi, saya sadar di era bebas berbendapat sekarang ini, siapapun dilindungi oleh hukum untuk mengimplementasikan pandangan seaneh apapun sepanjang tidak mengganggu orang lain. ya nggak?

    Comment by Irawan Danuningrat | August 21, 2009 | Reply

    • hehehe… saya juga bs mengatakan yang sebaliknya… tp apalah pengetahuan saya yg cuma segelintir ini… lagi pula, apalah saya… cuma seorang wanita, lain halnya mas Irawan yang seorang pria, imam keluarga, kepala keluarga, pencari nafkah dll… yg pastinya tahu lebih banyak ;;)

      (pssstt… hati2 bicara soal spiritualitas agama lho mas, bisa2 disalah artikan malah2 jadi bom bunuh diri :D)

      Comment by hapitri | August 21, 2009 | Reply

  4. Dear Hap,
    Ijinkan saya menanggapi pointers yg mbak tulis dlm artikel diatas :

    1. Saya sependapat bhw banyak orang yg mendapatkan pernikahannya tidak sesuai dengan apa yg dibayangkan sebelumnya. Faktanya, ketidak sesuaian tsb bisa “lebih buruk” atau sebaliknya “lebih baik” drpd bayangan sebelumnya. Dari pengamatan saya mereka yg menjadikan pernikahan sebagai “TOOL” utk mencapai kesenangan, banyak yg berakhir dgn kekecewaan sementara mereka yg menempatkan pernikahan sbg fitrah dan sunatullah, mayoritas dianugrahi Tuhan kebahagiaan (faktanya, mayoritas manusia menikah dan mayoritas bahagia dgn pernikahannya).

    2. Mungkin ada sedikit rpt sedikit wanita yg “memiliki” suami (bukan “bersuami”) merasa khawatir dan memandang wanita lajang dgn anggapan seperti itu, berbeda dengan pandangan kaum pria tentunya. pertanyaan saya, jika anda bersuami, apakah anda juga akan spt itu? saya yakin tidak. So, saya kira jeneralisasi point 2 ini kayaknya gak pas dan tdk sesuai dgn kenyataan pd mbak sendiri.

    3. Hal no. 3 ini betul2 sangat mengada-ada. Bhkan dlm komunitas barat yg cenderung individualis dimana banyak anak yg gak peduli sama ortunya sendiri yg sdh sepuh, tokh hak untuk being alone, utk selibat, utk hidup sejenis (pasti ga akan melahirkan anak bukan?) tak sedikitpun dirisaukan masalah mengurus nenek-kakek piatu… tokh mereka tidak akan menyulitkan siapapun karena di negara manapun ada institusi yg bertanggung jawab mengurusi panti jompo.

    Dulu ketika saya anak-anak/remaja, punya cita-cita jadi PRESIDEN, boleh juga jadi dokter atau insinyur…kenapa?
    Bagi saya Presiden. dokter maupun insinyur adalah jabatan yg terhormat, hebat, menjanjikan dan tidak mudah dicapai sembarang orang. Segala sesuatu yg “precious” dan “prestigious” tentu tak mudah dicapai bukan?
    Saya tidak pernah bercita-cita jadi tukang becak, kuli atau peminta-minta yg begitu mudah dicapai.
    Ketika saya akhirnya memutuskan untuk tidak menjadi atau belum berhasil jadi presiden, dokter atau insinyur, ide tsb tetap merupakan target yg luar biasa, dan KONSEP MENJADI presiden, dokter, insinyur sebagaimana juga dicita-citakan anak-anak sekarang, seperti saya dulu, tetap merupakan konsep yg besar, tidak absurd.

    Jadi, siapapun berhak memutuskan apapun yg terbaik bagi hidupnya (kecuali bunuh diri, apalagi pake bom di tempat umum lagi hehe…) seaneh apapun alasannya, tanpa harus mendiskreditkan sesuatu atau siapapun.

    Menurut saya pribadi, memang tidak etis menanyakan “kapan kawin?” atau “mengapa nggak kawin?” kpd wanita, termasuk kpd pria single yg jelas tidak sdg menjalin hubungan dgn siapapun.

    Yang jelas dari peneropongan jarak jauh saya….. (hikhikhik ga mau kalah ama mama Laurent nih) mbak Hap memiliki bakat yg luar biasa utk menjadi seorang isteri dan ibu yg perfect….. dan dengan menata kembali persepsi mbak tentang pernikahan, insyaallah….. gak lama lagi!

    Salam

    Comment by Irawan Danuningrat | August 22, 2009 | Reply

    • mas ini tipe yg meng-ojok2 orang biar menikah… padahal kenal saya cuma lewat internet, ga ada untungnya buat mas kl saya menikah… makanya saya curiga sekali akan ‘misery needs a company’….
      untungnya nikah itu tidak wajib 😀
      Nah berkenaan dengan nomer 2, karena pada kenyataannya… ada byk ‘stray dogs’ yang running around di dunia ini… seperti yg pernah saya blg kepada seorang teman, byk wanita yg menganggap pria menikah itu lbh menarik daripada single guys… (rasanya udah pernah saya tulis).
      point 3… hehehe…. saya akui ini point paling sinis yg saya punya…. ini kecurigaan belaka, karena saya belum pernah lihat kedalam panti jompo di indonesia 😉

      Comment by hapitri | August 24, 2009 | Reply

  5. Kalo mbak anggap saya mengojok-ojok orang biar menikah, ga ada salahnya saya kutip kembali pernyataan saya ya mbak :

    “Jadi, siapapun berhak memutuskan apapun yg terbaik bagi hidupnya (kecuali bunuh diri, apalagi pake bom di tempat umum lagi hehe…) seaneh apapun alasannya, tanpa harus mendiskreditkan sesuatu atau siapapun”.

    Saya dukung putusan siapapun utk memilih apapun yg terbaik bagi dirinya, manakala ybs betul2 pahami apa yg dipilihnya dan apa yg hendak ditinggalkannya…. (tak peduli saya kenal atau tidak ybs), tetapi jika setelah saya kemukakan ybs tetap dgn pendiriannya, apa hak dan kekuasaan saya memaksakan pendapat saya pd ybs?

    Ibaratnya, mbak ketemu seorang anak lucu sdg kebingungan di hadapan jalan bercabang, tentu mbak akan bertanya dan mencoba menunjukkan arah yg kira-kira paling cocok atau sesuai dengan harapan/tujuan awal ybs.

    Meski mbak nggak kenal ybs, Mbak juga pasti akan berusha meyakinkan bhw arah yg mbak tunjukkan adalah yg paling sesuai dgn intended itenerary ybs. Tapi jika setelah mbak kemukakan semua itu dia tetap bersikukuh dgn pendapatnya (utk tetap bingung memikirkan arah yg hendak dilaluinya), ya… mau bilang apa….

    Nyuwun pangapunten nggih….

    Comment by Irawan Danuningrat | August 24, 2009 | Reply

  6. Intinya, bagi saya siapapun boleh memutuskan dan memilih utk tidak menikah manakala hal tsb menjadi pilihan terbaik hidupnya tanpa harus men-generalisir (“mendiskreditkan”) bhw konsep pernikahan adalah “absurd”, meski secara subyektif mungkin ada orang2 yg berpendapat demikian, karena saya yakin mayoritas manusia tidak memandangnya seperti itu, termasuk saya dan mungkin pula kedua orang tua mbak…. (apalagi karakter mbak ini merupakan wanita ideal type saya lho…… hehehe cilaka!)P

    Comment by Irawan Danuningrat | August 24, 2009 | Reply

  7. Saya bisa menerima bahwa “misery needs a company” dalam arti positif.
    Tapi ungkapan Mbak yg mengindikasikan bahwa pemeo tsb diterjemahkan sbg “orang yg menderita cenderung mengajak orang lain utk juga mengalami penderitaan serupa” kayaknya kebangetan amat lagee… , masa iya sih manusia-manusia yg menikah itu seluruhya menderita? dan kalaupun ada yg konon merasa spt itu apa iya sih mereka juga tlh kehilangan nurani sehingga terdorong utk menjerumuskan orang lain cuma karena sekedar ingin dapat teman sependeritaan?

    Ny. Prita saja bahkan sampai dipenjara (dan masih dlm proses persidangan) gara-gara “menyebarluaskan” misery yg dialaminya saat berobat di sebuah RS agar orang lain tidak mengalami misery yg sama yg pernah dialaminya!

    Bagaimana dgn Mbak? saya yakin Mbak Hapitri MUSTAHIL akan merekomendasikan kpd teman-teman atau orang lain, sesuatu yg mbak tahu apalagi alami sendiri sbg sebuah misery….

    Have a nice day & all the best

    Comment by Irawan Danuningrat | August 25, 2009 | Reply

    • waduh waduh waduh…
      bertubi2… senangnya saya melihat mas Irawan ini bersemangat dengan topik saya yg satu ini 😀

      pertanyaan saya tetap bertahan… apa gunanya seseorang memutuskan untuk menunjukkan arah kepada orang lain?
      (mohon diingat saya tidak percaya dg altruistic behaviour, sila baca pada posting saya dalam topik tsb)

      asal mas baca baik2, kata2 yg saya pakai adalah “the older I get, more I think….” it is not generalizing.. it is personal opinion 😉
      But in any form, I do find the concept of marriage is not easy to understand.

      In what way ‘misery needs a company’ can be translated into positive thing?
      well, Ibu Prita herself decide to share her misery to ease her pain, to get sympathy, and to get some attention (if not from public, then from her friends).
      it is human nature, we rub a bit of our pain to others… hoping that we’ll stop feeling the pain or can ‘cuddle’ with other who experiences the same/similar pain…

      Dua pertanyaan lagi, bila mayoritas setuju untuk menghukum mati penjahat, apakah tindakan itu menjadi benar?
      (dengan dasar bahwa nyawa adalah milik Tuhan dan bukan hak manusia untuk menentukan hidup-mati seseorang… saya penasaran menunggu jawaban mas Irawan;))
      apakah dengan begitu, MAYORITAS pasti SELALU benar?

      Comment by hapitri | August 25, 2009 | Reply

  8. 1. Memang tidak mudah menemukan altruistic behaviour dlm karakter sosial yg umum meski tak dpt disebut mustahil, karena biasanya terjadi dlm relationship khusus (misalnya dlm lingkup keluarga antara ortu dgn anak, sepasang kekasih dsb). Namun demikian hakekat manusia yg memiliki “nurani”, yakni perangkat yg lebih canggih dibanding “naluri” (pd hewan), membuat manusia umumnya merasa hidupnya lebih bermakna manakala ia bisa memberi “arti” bagi sesamanya. Itu sebabnya muncul sosok “Batman”, “Superman”, “Himan” dst yg tidak sekedar bersedia/senang menunjukkan jalan bagi orang lain, bahkan siap berkorban bagi orang lain……. (lebih jauh, mungkin altruistic behaviour tsb tidak murni demi orang lain, melainkan lebih pada demi mewujudkan PRINSIP HIDUPNYA ybs).
    Itu sebabnya saya terkadang menganjurkan teman-teman yg sedang mengalami kebuntuan utk tidak terlalu bersikukuh pd prinsip hidup (or pola pikir) masing-masing dan seyogianya membuka peluang untuk “me-review” dengan memperhatikan berbagai aspek yg terkait didalamnya.

    2. Penderitaan memang “seakan” terasa lebih ringan dan more bearable hanya dengan mengetahui bahwa we are not the only one who have it, atau dengan sharing cerita ttg problem tsb kpd orang lain. Itulah yg saya maksud dengan hal positif dari “misery needs a company” dan sama sekali tidak berarti bahwa misery akan mendorong seseorang utk “njeblosin” orang lain ke lobang misery yg sama. Hal itu jelas berbeda dengan pesan mbak dlm artikel tsb yg kalau saya tak keliru mengartikan seolah mengatakan bahwa orang2 mendorong orang lain utk menikah supaya merasakan misery yg sama yg mereka temukan dlm pernikahan.
    3. Kebenaran tidak ada sangkut pautnya dengan mayoritas atau minoritas. Menurut istilah iklan “kebenaran tidak memihak”. Artinya, sesuatu yg diyakini “benar” oleh mayoritas, belum tentu merupakan sebuah kebenaran hakiki. Lihatlah kebenaran yg pernah diusung oleh Socrates yg bertentangan dengan kebenaran “dunia” saat itu, dan ternyata Socrates benar! Maka utk pertanyaan terakhir jawaban saya MAYORITAS TIDAK SELALU BENAR.

    4. Soal hukuman mati, setiap agama (entah dlm agama Budha – kayaknya nggak ngatur hal ini deh, saya tidak paham) punya aturan dan syarat tertentu dlm memberlakukan hukuman mati thdp manusia yg dikategorikan “jahat” dan “layak” dihukum mati. Jadi hukuman mati menurut saya mestinya should not be based on majority decision, but on God’s law.

    Terlepas pada paradigma mayoritas atau minoritas, pada hakekatnya Tuhan telah memberi petunjuk melalui Utusan-utusan-Nya dan Kitab-kitab-Nya tentang berbagai “kebenaran” dan tolok ukur hakekat kebenaran, dimana kita diajarkan untuk tidak menetapkan kebenaran hanya berdasarkan kemampuan logika manusia yg sesungguhnya sangat terbatas. Proses pencarian kebenaran dilakukan Nabi Ibrahim menyangkut berbagai aspek kehidupan adalah salah satu petunjuk betapa pentingnya kematangan menggabungkan kecerdasan Intelektual, Emosional dan Spiritual dalam menjalani kehidupan ini.

    Wallahualam, maaf kalau kepanjangan dan agak lat menjawabnya.

    best regards

    Comment by Irawan Danuningrat | August 25, 2009 | Reply

  9. Mudah-mudahan saya lulus ujian Mbake nih, kalau nggak, masih boleh di “her” khan? hehehe….

    Comment by Irawan Danuningrat | August 25, 2009 | Reply

  10. Mengapa saya katakan generalizing? karena kalimat “the older I get, the more I find that marriage concept is absolutely absurd!!” menunjukkan seolah-olah di dunia ini hanya ada 1 (satu) marriage concept….. Maka dari itu saya tanyakan dalam komentar sebelumnya “marriage concept siapa? atau yg mana?” karena faktanya muncul various marriage concepts selaras maksud, tujuan dan target yg ingin dicapai seseorang dengan perkawinannya tsb.

    Ada orang yg sekedar ingin mendapat status “laku”, utk membuktikan dirinya tidak jomblo……..
    Ada yg sekedar utk numpang hidup…; numpang beken….; memenuhi kebutuhan biologis; beranak pinak; bahkan tak jarang pula yg tujuannya semata-mata untuk menguasai harta/morotin orang yg mencintainya…. sungguh biadab!
    Ada pula yg konsepnya adalah melaksanakan sunatullah demi mendapatkan ridla Allah (hubungan vertical) sekaligus merasakan nikmat hidup bersosialisasi (hubungan horizontal) antar sesama manusia. Aspek relijius/spiritual ini sesungguhnya tidak hanya monopoli agama tertentu saja karena tak sedikit agama yg memuat aturan tentang pernikahan ini dalam ajarannya( a.l. Islam, Kristen, Katholik, Hindu dll) yang satu sama lain berbeda.

    Demikian sebagai penjelasan saya penangkapan saya ttg adanya kesan men-generalisasi MC dlm statement mbak diatas.

    Salam hormat

    Comment by Irawan Danuningrat | August 26, 2009 | Reply

    • hehehe… wah mas Irawan kl bilang matre itu biadab… itu artinya menentang hukum alam 😀
      dalam program genetik wanita, udah ada tuh ‘materialistic’ sebagai sesuatu yang umum 😉
      ga percaya?google ajah…
      kemarin saya nonton “the science of sex appeal” di discovery channel dan dibuktikan kok kl matre itu wajar 😀
      (sama wajarnya dengan pria yg lebih tertarik dg wanita yang curvaceous dan muda).

      hmm… saya pikir konsep dasar pernikahan cuma 1 kan?
      pria – agama – kontrak – wanita –> keluarga (anak)

      kecuali kalo bisa : kambing – kontrak – pria –> keluarga ???
      hehehe…
      maaf kalau saya me-simple-kan pernikahan menjadi seperti itu 😀
      krn dalam kenyataannya kontraknya sendiri terdiri dari 2 bagian, tertulis dan lisan… itu isinya bisa macam2, dari surat nikah, pre-nup, janji surga, etc. suka2 yg mau bikin kontrak deh 😉

      Comment by hapitri | August 26, 2009 | Reply

  11. wah… wah, saya coba ikuti terus komentar mas Irawan nih
    makin asyik aja, saya saran buat mas Irawan buka saja kantor
    konsultasi jodoh (pasti laku). Kalau lihat kualitas komentarnya yah pas banget.
    Hati-hati lho mas Ir, entar banyak yang naksir atau jangan-
    jangan mas lagi naksir nih hehehe.
    mas Irawan tahu karang ditengah lautan itu, kokoh dan tetap
    berdiri tegak walaupun dideru ombak yang deras.tetapi dia gak punya temen, akhirnya kesepian hahaha (ketawa mbah surip) gak enak tho?
    hidup itu pilihan, jadi jangan bujuki supaya nikah, biar pilih sendiri aja…..salam buat mas Irawan dan mbak Hapitri

    Comment by sawung sariti | August 26, 2009 | Reply

    • ck ck ck… mas Irawan punya fans!! hehehe…

      sendiri? masih banyak manusia di dunia kok, ada bbrp miliar… tp ga selalu harus dinikahi tho??

      Comment by hapitri | August 26, 2009 | Reply

    • @ Mas Sawung Sariti,

      waalaikum salaam, terimakasih atas complimentnya.
      Saya sesungguhnya memang lagi jatuh cinta hehe (nah lho)…. pd kehidupan di dunia yg cuma sekali ini….., artinya tidak ingin menyia-nyiakan hidup atau keliru mengisi hidup yg bukan saja telah banyak memberi kemudahan dan kenikmatan di dunia, melainkan juga menjadi penentu kehidupan di akhirat kelak….
      Saya sungguh beruntung jika hidup saya bisa memberi makna bagi orang-orang disekitar saya, baik yg saya kenal pribadi maupun tidak….
      Saya banyak mendapat tambahan pengetahuan dari tulisan2 dan pemikiran2 mbak ayu Hapitri ini, sehingga memberanikan diri share pandangan ttg hidup dgn beliau, mudah-mudahan beliau berkenan gicu looh…, kalo nggak… ya sumonggo mawon, saya ga ada niatan memaksa, maksadipun ngebujuki mawon hihihi…

      Comment by Irawan Danuningrat | August 26, 2009 | Reply

  12. menurut hemat saya konsep pernikahan tidak hanya satu. MC cenderung bersifat individualis berdasarkan tingkat intelektualitas, kultural, sosial system, ekonomi, spiritual dan moral masing-masing induvidu ….

    Konsep pernikahan pria mestinya tidak identik dgn konsep pernikahan seorang wanita. Seorang wanita bergantung thdp pria yg dicintai kemudian dinikahinya dan minta difasilitasi dgn berbagai perhiasan… ya memang wajar, tapi kalo ada seorang pria sengaja menikahi seorang wanita yg beken, kaya, terpandang semata mata demi numpang beken, numpang kaya bahkan morotin dan memanfaatkan si wanita yg mati2an cinta pd cowok pengeretan tsb, itu yg saya kategorikan “biadab”….

    Itu sebabnya saya katakan bhw konsep pernikahan itu tidak hanya satu, banyak juga lho pria pengeretan…..

    Comment by Irawan Danuningrat | August 26, 2009 | Reply

    • maksud saya mas… saya me-simplify this marriage concept.
      the common marriage IS the unison of a man and woman. that’s it…. the variables, can be anything 😀

      Comment by hapitri | August 28, 2009 | Reply

      • maaf mbak kalo saya keliru mengartikan Marriage “concept” tsb sbg “idea”, “notion”, “opinion”, “view”, “gagasan”,
        “dasar pikiran”…. dsb terkait pernikahan, bukan sekedar the union of a “man” and “woman” yg dlm pemahaman saya kedua unsur tsb justru hanya merupakan variable apalagi sejak beberapa tahun berselang hampir semua negara liberal (termasuk gerejanya) melegalkan pernikahan antara pria dgn pria, wanita dengan wanita, waria dgn waria …. dus bukan sekedar pria dengan wanita, kuda dengan keledai, herder dgn dobberman, mawar dengan melati dsb….

        salam greget hehehe

        Comment by Irawan Danuningrat | August 29, 2009

      • hehehe…. like I said… I simplify it to just a contract between man and woman 😉

        Comment by hapitri | September 1, 2009

  13. acc mas ir,
    utk mba hapitri maksud “sendiri” yaitu menentukan pilihan by Your self. Mau nikah gak nikah karepe dewe, orang lain gak usah ikut-ikut, gitu aja koq repot hehe
    konsep nikah itu apa sih, antara lain yang saya tahu dan alami yaitu : menyatukan dua kemauan yang belum tentu sama untuk menuju satu tujuan yang sama (ini sulit banget, harus belajar menyesuaikan terus menerus supaya sejalan, apalagi dah punya anak tambah lagi masalahnya. ada tiga kemauan yang yang harus disatukan lagi….. wis wis gawe mumet, urip koq angel temenan.
    jadi yang nikah ada enak ada gak enaknya, sebaliknya yang
    gak nikah juga demikian asalkan jangan enjoy by yourself, hihi
    mas Ir, diskusi ini gak akan ada habisnya karena dasarnya cuma logika aja, gak pakai pakem yang lain, supaya ada
    win-win solution.
    jadi kalau mau cepet selesai diskusinya pakai : kecerdasan
    berpikir (logika), kecerdasan emosi dan kecerdasan spiritual.
    pasti selesai karena kita nih manusia serba terbatas, yang
    penting ikhtiarnya harus maksimal gak nyerah gitu aja haha
    ok ….gracias, hasta pronto. buenas tardes!

    Comment by sawung sariti | August 27, 2009 | Reply

    • hehehe… itu nikmatnya diskusi lewat tulisan mas…
      bebas waktu, bebas syarat, bebas semua…
      mau pakai apapun juga sumonggo, mboten ono larangan mas… asal ojo oake sing saru2, ntar tak delete 😀

      Comment by hapitri | August 28, 2009 | Reply

  14. oh… begitu ya, jadi pantas ada yang namanya”kawin kontrak”
    enak tho, cari gampangnya aja supaya gak mumet, hahah

    Comment by sawung sariti | September 3, 2009 | Reply

    • Mas Sawung Sariti, jangankan kontrak, “nyewa” juga jelas ga diperlukan lagi bagi kaum liberalis yg fokusnya hanya kesenangan dalam hidup di dunia, yg penting suka-sama-suka.

      Kelihatannya sih pola pikir dan gaya hidup seperti itu memang enak dan simple, cuma konsekwensi selanjutnya setelah episode “dunia” selesai apa sesederhana yg dibayangkan? padahal jika episode hidup dan mati manusia adalah sesuatu yg pasti, maka episode (kehidupan) sesudah mati juga secara logika jelas menjadi sesuatu hal yg pasti pula…..

      Comment by Irawan Danuningrat | September 4, 2009 | Reply

      • Huahaahaha… mas Irawan kok definisinya malah melenceng ke hedonism???

        Comment by hapitri | September 7, 2009

    • hehehe… tinggal cari aja ‘sapi’ yang mau dibeli 😀

      Comment by hapitri | September 7, 2009 | Reply


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: