Bitchiness is not a Crime

Just another woman who try to look wise

Is it cultural or just… plain idots?!

Sedikit curhat, tapi juga penasaran… saya cerita dulu kronologisnya (agak panjang)

semalam gw dan beberapa rekan gw jalan bareng. Kami dari kantor yg berada di daerah sudirman menuju ke pasar festival (ceritanya mau karaokean).
Dari awal berangkat, supir taxi kami sudah mengambil jalan yang rutenya muter bgt (dia mengarahkan mobil ke casablanka, padahal kl lewat rute pasar rumput kan lbh dekat).

teman2 saya (ada seorang bos dalam taxi itu), tidak komentar. malah ada teman saya yang cukup sok tahu mengarahkan taxi untuk lebih memutar (supir dengan bahagia langsung membelokkan mobil ke jalan kecil yg tidak membuat kami sampai lebih cepat).

sampai akhirnya di kuningan, saya yang berusaha tidak ambil bagian dari pengambilan keputusan bodoh itu, menyerah dan meminta supir itu untuk mengambil jalur lambat ini kata2 yg saya gunakan:
“pak ambil jalur lambat aja, kayanya bapaknya juga engga terlalu tahu jalan”

and then… tiba2 semua didalam taxi terdiam… dan teman yg sok tahu tadi tiba2 blg:
“that’s not so nice”

pertanyaan saya, kenapa orang2 Indonesia membiarkan supir taxi itu menipu dan malah menegur orang yang mengakui adanya penipuan?
saya bukan tipe orang pelit yg akan membayar pas bener dengan argo taxi, tapi saya juga bukan orang yang rela ditipu mentah2.

so tell me… how does Indonesian judge what is right and what is wrong?
what is the f*cking logic behind that?

sorry agak panjang… cuma penasaran apakah ini masalah dalam culture kita atau temen2 gw aja yang begonya ga ketulungan??

Advertisements

May 7, 2009 - Posted by | B*tching, In between, Life in General, Work place

3 Comments »

  1. Itu mgkn saking senengnya naik taxi jd diputer2in diem aja hehehe….

    memang kacau ndoroputri rakyat indonesia skrg ini soal penentuan benar dan salah, makanya soal ujian SD udah nda ada opsi benar salah, yg msh ada pilihan berganda….
    Mgkn ksh tau aj ke temene ndoroputri itu kalo menentukan jalan yg mau diambil itu hak azasi setiap umat manusia…

    Comment by Rondo royal | May 9, 2009 | Reply

  2. Hi hi hi….,
    “bagus”-nya anda menulis :

    “pertanyaan saya, kenapa ORANG2 INDONESIA membiarkan supir taxi itu menipu dan malah menegur orang yang mengakui adanya penipuan?” …

    so then U R also included he..he..he..(kacuali mbak iki pancen sanes WNI lho…), and, as one of a quite limited advance educated Indonesians, I belief, you must have an acceptable reason or… the f*cking logic, to answer ur own question…. hi..hi..hi.

    btw, mungkin bang sopir taksi pikir “namanye juge usahe”… , cik kira noni2 kece ni seronok di jak pusing2 sight-seeing sekedarnya, sekalian naikin ongkos sewa sikit gitulah….hihi.

    anyhow, biasanya para supir taksi di indonesia langsung tanya route yg dipilih or ingin ditempuh si penumpang. jika si penumpang tidak menanggapi atau menyerahkan soal route ini pd ybs, wajar saja jika ia mengambil route yg dianggapnya paling convenient.

    as a matter of fact, banyak hal yg terjadi dlm kehidupan ini tidak berjalan sebagaimana perkiraan dan harapan kita. hal tsb tentu akan jd sgt menyebalkan jika kita sikapi sbg sesuatu yg menyebalkan, namun juga bisa menjadi sesuatu yg menarik dan menakjubkan manakala kita mencoba memahaminya dari kacamata yg berbeda.

    nampaknya, ramainya dinamika kehidupan kita sesungguhnya sangat bergantung dan berpulang pada bagaimana cara kita menyikapi berbagai kejadian yg tersaji dalam keseharian kita… w’alam.

    salam kenal,

    Irawan

    Comment by Irawan Danuningrat | May 11, 2009 | Reply

    • Salam kenal juga… pak cik ni malay ke?

      As I’ve admitted on my previous post(s), I am ATYPICAL Indonesian… I got my feet in Indonesian tradiation and another feet at lost 😀
      I hope that’s a f*cking good reason 🙂

      Ah, indeed I do understand that cab driver need to make ‘more’ money, but the problem lies within the people kat cab tersebut…

      aku xkisah pada cab driver itu, hanya pada kawan2 yg ramai ada dalam cab itu…. cam sial jer!
      😀

      Comment by hapitri | May 14, 2009 | Reply


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: