Bitchiness is not a Crime

Just another woman who try to look wise

The nesting period

I know I should’ve gone through some research for support data for this… but I am just too lazy…

I know that I’ve read about this some where… (anyone who knows or have reference of this please come forward).

Just like any other living being, there are some stages in life that needed to go through… it is basic instinct.

For instance, for the last few weeks, I’ve been buying furniture… yes, home furniture. The weird part is that I’m still living with my parents and it is obvious that I don’t need furniture, since I’ve been born into a full furnished house.

But the urge to buy those furniture was strong, so I go and buy them – even spare enough time to go look for it…

So there, I bought some. I wasn’t aware that I was nesting… creating a nest, that is. Until a few days ago when I start to think, what am I doing with all the furniture I bought. Indeed I am a bit shopaholic, but this was not impulse buying. I think it through and even calculated the budget… (something new in my life).

So I think and rethink… and I realized that I’ve been driven by my basic instinct to make my own nest (had been thinking to buy a house of my own lately), and that actually scares me.

If a creature making a nest, getting it ready… to receive ‘chicks’ or ‘cubs’ or whatever… it means the urge of mating will soon come. Oh boy… I’ve realized that I’ve been looking for mr. Right for quite some times, but this ancient urge is different… (I do need to say ‘ancient’ since it is primal and unconscious drive of any living being).

And funnily enough, the more I realized it, the stronger I want to buy a house!! My brain screaming for me to stop, but this urge is pushing through my consciousness. It is not something to deny, in fact denying it, would be so unnatural.

Oh man… I am in deep shit. I wanted to stop. I wanted to stay longer at my present state, but I do need to move on.

The scariest part of it, is to have me desperately aching to be copulated… eeww… and have something growing inside of me…

(saying to myself “don’t panic, adoption is still an open option”)

To think that I am not quite keen of babies or kids…

Damn… entering adulthood was not like what I’ve pictured.

Advertisements

March 30, 2009 - Posted by | In between, Life in General, Relationship, Sex, Women

8 Comments »

  1. Membaca artikel diatas, saya hampir yakin bahwa “nesting period” yg dialami Mbak Ayu Hapiitri tsb adalah sesuatu yg sangat luar biasa. Di mata saya, “nesting period” tsb hadir karena naluri. Bukan sembarang naluri, melainkan kekuatan yang begitu istimewa, yang mampu mengatasi dominasi logika dan egoisme manusia yang biasanya sangat berperan dalam kehidupan seseorang.

    Naluri seperti ini, tergolong naluri yang dimiliki orang-orang pilihan dan para Nabi. Naluri yg mendorong mereka bergerak di melampaui tatanan logika yg dijadikan acuan di masanya. Logika yg membuat para Nabi merasakan eksistensi, mencari, mencari, mencintai dan menemukan Tuhannya.

    Naluri/instink itu pula yg menjadikan seekor burung manyar mampu merajut rerumputan menjadi sarang begitu elok dan artistik bagi peraduan cinta mereka meski seumur hidupnya tak pernah diajar oleh siapapun. Demikian pula dengan beruang kutub yg hidup soliter. Berkat instinknya dengan mudah ia temui pasangan yg tersebunyi terpaut ratusan kilometer darinya. Kekuatan itulah yang menuntun setiap mahluk kepada pasangan terbaik yg diberikan Sang Pencipta untuknya.

    Apa yg terjadi pada Mbak Hapitri, tampaknya mengarah pada kehidupan burung camar dan beruang salju atau Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad yg ikhlas dan yakin terhadap nalurinya, untuk mempertemukan dia pada “dia” yang menyajikan kebahagiaan melebihi apa yang pernah mereka bayangkan, sebagai jawaban atas keikhlasan dan rasa syukur pada-Nya.
    Namun Mr. Right, mungkin sulit atau mustahil bisa bersua, jika yang dicari adalah sosok yg terwujud berdasarkan rekaan dan hasil rekayasa angan-angan belaka….

    Goodluck & salam mendalam

    Comment by Irawan Danuningrat | May 18, 2009 | Reply

    • gubrak…
      itu mah keadaan alami semua makhluk… mau ga mau… ya pasti ngalamin…
      sama alaminya kaya amoeba membelah selnya… hehehehe…

      tp makasih udah dibilang istimewa…

      mr.Right hahahaha…
      aneh, dr bbrp pria yg saya temui, semua minta ‘dibentuk’ oleh pasangannya… apakah semua pria begitu ‘lost’ sm bentuk aslinya smp butuh bantuan untuk di bentuk??
      padahal saya cuma mau terima apa adanya… yg lbh aneh lagi, ga ada yg mau hehehehe….

      Comment by hapitri | May 20, 2009 | Reply

      • Memang, alaminya demikian, sayangnya ketika yg alamiah tsb jatuh pd manusia, banyak diantara mrk yg tidak mau dituntun basic instictnya. Keengganan tsb mungkin dikarenakan oleh “ego”, “nafsu” dan “instict” (pd hewan) atau “naluri” (pd manusia).
        Tak sedikit manusia yg mengira nilai kemanusiaan akan turun setara hewan jika ia bergerak mengikuti basic instict (naluri)-nya.

        Soal banyak pria yg “minta dibentuk” oleh wanita, semestinya lebih dipahami sbg gesture dari kaum pria utk menjadi sosok sbgmana diinginkan wanitanya. Sungguh keliru jika hal itu dinilai sbg “lost” sm bentuk aslinya.

        Mbak bilang bhw kaum pria pd hakekatnya (fitrahnya) tidak monogamis (poligamis). Nah….. jika mbak juga insist ingin mendapatkan pria kukuh dgn jatidiri dan fitrahnya, he he he…. siap-siap aja utk jadi bagian dari poli…
        bagaimana ??

        Mas Haniifa siap siap ya…..!!

        Comment by Irawan Danuningrat | May 20, 2009

      • haiyaaa….
        pusing euy…
        gmn saia mau bentak-bentuk orang lain sementara diri sendiri aja belum bener??

        kan pada dasarnya manusia, atau apalah berevolusi. tp apakah pria itu terlalu malas buat mendorong evolusi dirinya sendiri, shg butuh wanita untuk itu??

        Semua manusia kan bs berubah, dan jatidiri itu kan sosok yang kita sendiri bentuk dan percayai adalah yg plg inti dari diri sendiri… dan ga semua percaya bahwa poligami itu bagus kok 😉

        Comment by hapitri | May 26, 2009

  2. Tambahin dikit contoh soal resistensi terhadap naluri…

    Jika ada wanita bilang cita-citanya adalah : ingin jadi ibu rumah tangga yg baik, melahirkan, menyusui, membesarkan anak dsb, tak sedikit wanita “terpelajar” dan “modern” mencibir dan memandang dgn rasa “kasihan” thdp ybs…. konon katanya, nah wanita yg begini ini yg mesti dididik… hehehe…
    Perlu diketahui, ketika saya bermukim di Stockholm bbrp tahun silam, saya temui beberapa wanita swedia yg punya karir cemerlang dan masa depan menjanjikan (di swasta maupun di pemerintahan), justru memilih quit dari karir dan pekerjaannya sejak memiliki anak (a.l. ngadopsi bayi dari Indonesia), dan memilih berkarir sbg IBU dan Isteri yg baik!!! Keputusan tsb bukankah pd hakekatnya adalah dorongan naluriah seorang wanita?
    Simak pula apa respons orang-orang yg mendengar hal tsb?
    Hampir semua (termasuk saya, juga wanita-wanita lainnya) angkat topi, kagum dan sangat terkesan oleh keputusnan ybs.
    So, you got the point don’t u ?

    rgds

    Comment by Irawan Danuningrat | May 20, 2009 | Reply

    • this is what I called basic ‘self’.
      depends on what you believe and how you value yourself.
      In fact, those women made a choice. They know EXACTLY what they want, unfortunately… many women in Indonesia had not known better, they think that their only choice is to be a child bearer… and life as a woman would be complete once you gave birth…
      but have they seen their other potentials or choices? only God knows…

      Comment by hapitri | May 26, 2009 | Reply

      • Jika seseorang ‘ngeh bhw dibalik sebuah kendi tanah liat tersimpan emas pemata dan mutu manikam yg tak ternilai, sementara ia juga tahu bhw ia memiliki potensi begitu besar untuk mendapatkannya, maka logis banget jika ia lebih memilih dan mengejar kendi tanah lihat tsb dibanding mengejar tempayan perak atau emas yg didalamnya kosong atau bahkan ular berbisa…..
        Cerita-cerita ttg nilai-nilai hakiki seperti inilah yg senantiasa ditanamkan semua agama thdp masing-masing pemeluknya agar tidak terkecoh oleh “kemasan” luar (baik atas nama logika, HAM, kebebasan dsb) karena “value” yg sesungguhnya hanya merujuk pd ketentuan “administrator”, bukan pd selera “user”.

        Memang, manusia diberi kebebasan tuk memilih. Tapi saya pribadi lebih berharap, lebih nyaman dan sangat bersyukur jika tak usah memilih melainkan diberi “tuntunan dan petunjuk ke jalan yg lurus” sebagaimana dipanjatkan melalui al fatihah [6-7], daripada dihadapkan pd banyak opsi yg kesemua tampak logis, indah, gemerlap, populer, modern, maju dsb dsb, dgn “value” yg tidak jelas dan pasti bukan yg terbaik.

        Kembali, setiap orang tentu berbeda dlm memilah, memilih, menilai dan memberi pembobotan thdp segala sesuatu yg dijalani dlm hidupnya, namun bagi saya yg terpenting adalah bgmn bisa mencapai ridla-Nya, bukan lebih berorientasi pd mencari logika kontemporer, ego pribadi maupun nilai-nilai mereka……

        Comment by Irawan Danuningrat | May 26, 2009

      • itulah… untuk kita ‘ngeh’ potensi kita, harus ada yang ngasih rambu2 dulu awalnya… seperti approval dari orang tua atau pujian dari guru atau pengakuan dari lingkungan. nah kl itu semua ga ada, kita akan percaya bahwa kita memang tidak memiliki kemampuan itu…
        Pengetahuan juga sumber yang baik untuk kita menyadari sampai mana kemampuan diri sendiri, tapi apakah mereka memiliki kesempatan itu?
        terlebih bila masyarakat sekitarnya menolak ‘value’ itu, sehingga itu dianggap keluar dari norma… ini yang membuat pilihan2 kita menjadi lebih sempit daripada potensi diri yg sesungguhnya.
        Tidak ada yg salah dalam mengejar ambisi pribadi selama tidak bertentangan dengan prinsip dasar yg dipegang diri sendiri, contohnya agama itu 😉
        Selama ga dosa tho?
        😀

        Comment by hapitri | June 2, 2009


Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: